Pages

Tuesday, November 8, 2011

“Seorang Saintis Pun Tak Bisa Mengubah Dunia Menjadi Lebih Baik”

Orang berkata bahwa ilmuwan adalah orang yang dapat mengubah dunia, memajukan teknologi, selalu membuat suatu terobosan yang dapat memulai peradaban baru. Hal itu terbukti dengan peradaban manusia yang semakin maju tahun ke tahun.
Dahulu orang berkirim kabar lewat surat yang seminggu kemudian baru dapat dibaca oleh orang yang dituju, sekarang  oleh teknologi cangih yang diciptakan ilmuwan kawan di belahan dunia manapun dapat berkirim kabar dengan cepat dengan e-mail ataupun pesan singkat (short message sending).
Dahulu orang berjalan kaki atau bersepeda untuk pergi ke tempat kerja ataupun berjalan – jalan, kini oleh teknologi manusia tidak perlu repot berjalan kaki atau lelah mengayuh sepeda karena lebih dari 35% manusia (data tahun 1990 di eropa) menggunakan mobil untuk berpergian.
Dahulu orang menggunakan batu untuk menulis atau daun – daunan, sekarang industri kertas telah didirikan dengan kertas yang mudah didapatkan, digunakan dan dibuang.
Semua keuntungan ini ada di sisi manusia (Homo sapiens). Tapi sadarkah kita manusia, telah merugikan ribuan bahkan jutaan spesies di bumi ini karena kita?
Sinyal yang digunakan untuk telepon selular, ternyata mengganggu kehidupan lebah, berikut berita yang saya ambil dari Cuplik.Com :
sinyal ponsel mengganggu komunikasi
 lebah yang juga menggunakan sinyal 
Cuplik.Com - New Delhi - Ponsel yang berkembang di masyarakat ternyata bisa menyebabkan penurunan tajam dari populasi lebah madu. Sebab sinyal dalam ponsel menyebabkan radiasi pada koloni Lebah.
Para peneliti India yang berasal dari University of Punjab telah melakukan sejumlah uji coba dengan memasang salah satu dari dua sarang dengan dua ponsel yang dinyalakan selama 15 menit selama dua kali sehari. Sedangkan sarang yang lainnya ditaruh ponsel mainan atau dummy.
Setelah tiga bulan, mereka menemukan bahwa jumlah lebah dalam sarang yang dilengkapi dengan ponsel telah jatuh secara dramatis. Lebah Madu berperilaku aneh, ada lebih sedikit telur, dan tidak menghasilkan madu.
Perubahan perilaku lebah serupa telah diamati di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir. Koloni dari lebah-lebah tersebut hanya meninggalkan sarang, tidak pernah kembali. Fenomena ini dikenal sebagai koloni gangguan yang menyebabkan keruntuhan.
"Biasanya runtuhnya koloni sebelumnya disebabkan oleh virus, parasit, pestisida, menggunakan tanaman rekayasa genetik dan perubahan iklim," kata para peneliti, seperti dilansir Times of India,
"Laporan seperti runtuhnya koloni di alam di negara-negara berkembang seperti India, karena radiasi elektromagnetik (EMR) berbasis teknologi relatif baru bahkan cendrung tidak ada. Tapi, hal ini dimungkinkan bahwa EMR yang berlaku di negara-negara maju mempengaruhi populasi lebah di negara tersebut," tambahnya
Dari hasil penelitian tersebut, para ilmuwan di India menyimpulka, "Kami beruntung bahwa lonceng peringatan sudah berbunyi dan hal itu bagi kita dapat digunakan merencanakan strategi yang tepat untuk menyelamatkan bukan hanya lebah, tetapi hidup dari efek buruk tersebut,"[oz/mang].]


Limbah dari industri di dunia merusak lingkungan. berita dibawah ini diambil dari http://www.rainwaterharvesting.org/crisis/Industrial-pollution :
Industry at any cost 
(This article first appeared in Down To Earth, 
April 15, 2000) 
Maharashtra and Gujarat. The brightest jewels in India's industrial crown. But impressive industrial growth figures fail to hide the grim realities of environmental pollution. While, the state governments are only bothered about industrial growth, the civil society is struggling to draw public attention to the impending danger to the environmental and public health.
Industrial survey statistics tell you that more than one-hird — 36.3 per cent — of the total value added by to the raw materials through manufacture in the factory sector of the country comes from Maharashtra (23.66 per cent) and Gujarat (12.64 per cent). Easily, the two most industrialised states of India.Governments of both the states claim they have created immense prosperity in the region. But statistics do not tell you the real story of thousands of workers and farmers. Aniruddha Mohanty is one of them.

Mohanty has been working in the Daru Khana shipbreaking yard of Chembur for the past 15 years. It is a life without any dignity due to a living being. Everyday for 8-10 hours he inhales toxic fumes from the abandoned ships that he breaks. The fear of explosion looms large. His best friend died last month in an explosion while breaking a ship. “In the past 15 years, I have got tuberculosis three times. The doctors say I have to quit this job and to shift to a cleaner place,” he says. He stays in Deonar, Maharashtra's largest solid waste dumping ground. In violation of a Mumbai High Court order, prohibiting burning of wastes, wastes are still burnt in Deonar. For Aniruddha, clean air is an impossibility.

Drive down the Mumbai-Pune highway and you will witness the horrible truth of industrialisation. Hundreds of industrial units dealing with chemicals and fertilisers dump their sludge along the roadside. Chimneys emit gases that make breathing difficult. “Industrial units never stop polluting, and people cannot stop working for them. So, it is a treadmill that ends only with a painful death,” says Rajesh Panicker, an industrial worker of Panvel in Maharashtra.

A few hours of travelling northwards of Mumbai will take you to the Vapi Industrial Estate of southern Gujarat. At Kolak village, about 15 km away from the estate, you will get statistics of a very different kind. “Sixty people have died of cancer in the village in the past 10 years, while 20 others are fighting a losing battle,” says Ganpat B Tandel, former sarpanch (head) of the village council, who has been vehemently opposing pollution of the Kolak river by the industrial estate. Nearly 20 years ago, cancer cases were not so rampant. But factories of the estate, which produce pesticides, agrochemicals, organochlorines dyes and dye intermediates, have been dumping untreated effluents in the river. Most residents of the village are fisherfolk who eat fish from the river.
“The organochlorines and other persistent organic pollutants (POPs) in the industrial effluents are known carcinogens,” says Michael Mazgaonkar of the Paryavaran Suraksha Samiti (PSS), a Gujarat-based non-governmental organisation. Take the case of Deviben Tandel, who had cancer. On December 31, 1999, when thousands of people who use products manufactured at Vapi would have been celebrating new year's eve, the 50-year-old resident of Kolak quietly died. Four months ago, her elder sister had died of cancer.

As per a Central Pollution Control Board (CPCB) action plan for Vapi, factories cannot dump effluent in the rivulet Bhil Khadi but have to send it to a common effluent treatment plant (CETP). “But hundreds of industrial units do not treat their wastes as per the inlet parameters of the cetp, and are releasing untreated effluents into the Bhil Khadi. It ultimately meets and pollutes the Kolak river and the sea,” says a cpcb official.

Nainabhen Tandel, sarpanch of the village council, says: “On many occasions, we have caught tankers directly dumping effluents in the river.” The fish catch in the coastal areas has gone down considerably. Says KH Makrani, vice-president of the Daman Fishermen Association in Valsad district of Gujarat, “We don't get fish catch in the seashore areas. So, only those fisherfolk who can afford to go as far as 12 km inside the sea are continuing in this business.”

There are innumerable stories like these that go unheard. Invariably, those worst hit by industrial pollution are either rural folk who are unaware of its effects or workers who earn their living from the polluting factories. But more than the polluting industrial units, the blame goes to regulatory agencies — state pollution control boards (SPCBs) and state industrial development corporations — that were created to control and monitor industrialisation. Instead, these agencies have been reduced to mere rubber stamps to promote industrialisation at a frenzied pace. The industrial system has been reduced to a state wherein it makes better business sense for industrialists to carelessly dump hazardous waste rather than set up mechanisms to deal with it.

So, what are the people doing to save themselves? Actually, not much right now.But, not too long ago, there was hope of battling out the pollution juggernaut through the courts and non-governmental organisations (NGOs). Finding out that there was absolutely no point in knocking at the doors of government agencies — there is a clear bias in favour of the industry throughout the government machinery — those affected by pollution rallied behind ngos. A spate of public interest litigation (PIL) saw the polluters being dragged to court.
A victim of throat cancer at Kolak village (above); and dead fish of Kolak river washed ashore. Fish kills occur when Vapi factories discharge untreated effluent
But the lack of initiative on the part of the implementing agencies tired out the public spirit. In 1995, the Gujarat High Court ordered the closure of 756 industrial units in Vatva, Narol, Naroda, and Odhav, asking them to compensate the villages affected by pollution through discharge of untreated effluents. Many of these units are operating even today and are still polluting. “The failure of the court had an extremely damaging effect as even the last institution of democracy failed to check pollution in Gujarat,” laments Girish Patel, an advocate in the Gujarat High Court.

In Maharashtra, the problem is componded by the absence of credible data. “It is difficult to find any data on the environmental status. The Maharashtra Pollution Control Board does not come out with any study on pollution. So the people do not have strong baseline data to contest the powerful industry lobby,” says TN Mahadevan, a scientist who is also the secretary of Society for Clean Air, a Mumbai-based ngo. “Lack of information paralyses the battle against pollution.”

At present, it's all quiet on the western front. And dirty.


Lalu bumi memanggil kalian para ilmuwan, memanggil kalian wahai manusia yang dapat berfikir dan bertindak, untuk menyelamatkan dan mengobati lingkungan yang telah tersakiti (tercemari –red) oleh kalian sendiri.


Hari ini, saya mendapat penjelasan dari teman sekelas saya tentang “Apa yang dapat kita lakukan sebagai saintis untuk menangani pencemaran lingkungan?” dan saya mendapat jawaban seperti ini :


“Limbah yang merusak lingkungan pada jurnal tersebut berasal dari 3 tempat; limbah rumah tangga, bekas pertambakan, dan limbah industri, yang dapat kita lakukan adalah:
1.Untuk limbah rumah tangga :  tidak membuang sampah sembarangan apalagi ke kali/sungai
2.Untuk bekas tambak : tidak menggunakan zat berbahaya saat menambak ikan
3. Untuk limbah industri : tidak membuang limbah secara langsung ke lingkungan (harus diolah terlebih dahulu)”

Menurut saya, pernyataan diatas adalah cara mencegah pencemaran, bukan mengobati lingkungan yang telah tercemar.

Apakah kita hanya bergantung pada industri yang mau mengolah limbahnya?

Apakah kita mahasiswa jurusan ilmu pengetahuan alam bergantung pada para penambak yang mau menggunakan zat ramah lingkungan untuk pakan ternak ikannya?

Apakah para saintis hanya bisa meneliti kadar pencemaran pada lingkungan, dan tidak dapat mengembalikan lingkungan menjadi sehat dengan ilmu yang mereka (atau kita-red) punya?

Thursday, October 13, 2011

Kisah Seonggok Jagung Rebus

Ini adalah kisah penyesalan lain dari hidup saya- seorang blogger pemula :

"Jagung rebus"

 Apa yang saudara bayangkan ketika melihat, menghirup aroma si makanan yang satu ini? nikmat bukan?
tapi ada kisah unik dibalik si kuning ini.

Pada hari minggu kemarin, telah diceritakan betapa senangnya saya dan beberapa rekan saya menikmati si kuning penuh karbohidrat ini, yang kami dapat kan di Taman Fatahillah. Sebenarnya tidak ada yang spesial akan proses mencari maupun memakan jagung rebus ini kemarin. Bahkan saya sendiri sudah lupa.

Tetapi pada hari Selasa, 11 Oktober 2011 pukul 11.10 di ruang 6.15 ada perkataan dosen Kimia Lingkungan saya, Pak Adi Riyadhi, yang menohok sampai ke perut saya (loh kok perut?).. Beliau berkata :

"Sungai ciliwung itu kan tercemar ya?, anda tidak tahu apa yang penduduk sekitar lakukan dengan air sungai Ciliwung itu. Disana itu, anda tahu JAGUNG REBUS?, itu direbus pakai air dari kali Ciliwung"
Deg! bagaimana perkataan tersebut tidak menghancurkan perasaan bahkan lambung saya yang baru 3 hari sebelumnya menikmati dengan riang "si jagung rebus dari kali ciliwung". mata saya pun langsung bertatapan dengan Oci . Raut wajahnya pun tidak enak (jangandilihat tahi lalatnya ya, itu memang mengganggu .. hahaha -abaikan)

Hey! pencerahan itu pun datang terlambat. Setelah sang jagung telah menari-nari dengan gerakan peristaltik di tenggorokan hingga usus saya.. dan sekarang mungkin sedang tertawa-tawa di 10 meter dibawah rumah saya!

Pantas saja sang jagung berwarna hitam - hitam aneh di dalam biji - biji monokotilnya yang berwarna kuning.

air nya dari sini nih - Sungai Ciliwung - Jakarta (melewati kota tua)

Sekali lagi kawan, BEWARE lah akan makanan yang kita konsumsi, seberapa menggiurkannya makanan itu, tapi kalo direbus sama air ciliwung yang anda semua pun tahu dicemari dengan limbah rumah tangga hingga limbah pabrik yang entah logam berat apa yang tercampur didalamnya ... hiiiy ..
dari sampah plastik biasa sampai kasur pun ada di dalam situ.. BAYANGKAN saudara - saudara! bagaimana penderitaan saya..




Oh pak Adi, kalo ngasih tau ya jangan telat gitu loh pak, nasib nasib

Tuesday, October 11, 2011

NEED A TUTOR

Saya mau memper-canggih-kan blog dari blogger ini...
saya mohon tunutnnannya untuk : 
1. Membuat menutabs pada menu utama (disamping beranda)
2. Meneglola tiap posting untuk tiap menutabs..

mohon bantuannya 

regards,

Syifa Fathya Leonita

Monday, October 10, 2011

the most useless-dumbest-craziest vacation !!!

for the first posting!
i give you this story...


nothing speciall actually, but i've gotta made this blog usefull (-_-")
i hope you enjoy it :)

Saya dan Oci, kawan lesbian saya yang bodoh dan udik (both of us) ditemani dengan adik kelas yang songnong dan sok gaul (faiz-red) mau menikmati sedikit hari libur untuk bersenang-sengang (rencananya).. dan demi obsesi Oci untuk pergi ke Kota Tua (jakarta) kami pun berangkat kesana kemarin, tanggal 09 Oktober 2011..

Sebenarnya saya diliputi keraguan dan kemalasan untuk pergi , secara uang di dompet tinggal Rp. 30.000 .. yanh demi menyenangkan teman lah saya akhirnya berangkat dengan kaos lusuh yang kemarin harinya saya pakai + jeans lusuh yang kemarinnya saya pakai juga , tapi cardigan baru keluar dari lemari (fresh from the cupboard) ditemani dengan rintik-rintik hujan yang turun di Ciputat. dan langsung naik angkot menuju halte Transjakarta Pondok Pinang.

Begitu banyak kesialan yang kami dapatkan ... yang pertama adalah saat berangkat :

  1. Bus penuh (tak ada kursi yang tersisa untuk duduk.. padahal perjalanan Pd. Pinang - Harmoni itu sangat jauh bung )
  2. Tas Oci rusak di bagian retsleting, tenganga lah isi tas --> laptop, digicam, mukena, dompet dan segala - gala
  3. Serangan kelaparan yang membuat mood kami makin buruk

Ternyata Kota Tua di hari minggu sungguh sangat tidak menyenangkan bung! bagai pasar malam pasar malam yang ada di kampung-kampung di pindah tumplel-blek-blek di taman fatahillah.. damn! membuat kami bertiga dengan tampang bodoh+udik+lesu semakin menyesali "Mengapa harus kesini tuhaaaaaaaaaaaaaaaaan??"

Dengan kepasrahan yang dipaksakan, kami pun mencoba tabah dan menikmati perjalanan kami dengan MAKAN terlebih dahulu (eat first think later) .... kami pun berkeliling memilih makanan yang mencukupi kocek dan enak.. dan pilihan kami pun tesemat di tukang nasi goreng, yang ada daftar makanan di gerobaknya (disamping gedung POS)

Uuuups.. sebenernya kami ga makan di tempat gerobak yang diatas hehe tapi adanya saya sematkan karena unik namanya. kenapa harus nasi goreng cinta?? hmmmm.... apa yang makan langsung cinta-cintaan gitu sama abangnya (yang tampangnya gaul dengan tindikan dimana mana) .. whatever lah .. ga fungsional juga membahas nama gerobak si abang nasgor...

sebenernya saya makan di sini ------------->>>>>>

dengan porsi yaaa lumayan mengobati kelaparan saya yang basicly adalah keturunan T-rex .. hahahahah
tapi sungguh menguras sodara-sodara, air mineral botol, yang biasanya saya beli di minimarket cuma Rp.1.600,00 disana saya harus membayar 3 kali lipat!!! untuk volume yang sama.. ya di ikhlaskan saja, walau agak ngedumel sedikit (-_-")

daaan pengganggunya masaaaalaaah .. banyak sekali ya, mulai dari anak ngemis maksa .. sampe pengamen bersuara indah>>pas-pasan>>tidak patut dikeluarkan .. ckckck
maaf ya mas,mba, adek".. uang saya pas"an .. buat makan aja susah (T.T)


16.41 : makan selesai
acara dilanjutkan dengan NGIDAMNYA oci naik sepeda keliling" kota (serasa bawa duit sejuta kali dia). setelah nego" dengan abangnya.. kami bertiga pun berangkat menuju pelabuhan sunda kela, berharap ada yang bisa dinikmati lah disana... karena mood saya masih ga enak, saya menolak lah untuk menjadi pembonceng..biarkan si oci menikmati kota yang sumpek dengan menggowes sepeda yang stang nya oglek oglek (loh?)

Ini yang saya bilang ga bagus anglenya (-_-") -
salah satu gang Taman Fatahillah 
10 menitan dibonceng (karena saya duduk doang sambil menyemangati) sampai lah di pelabuhan yang penuh debu (gimana nih pemda DKI, itu juga kan tempat wisata-abaikan), dan mulailah saya dan oci memperbudak adak 92 hahaha ;evil;evil; suruh jadi photografer yang menurut saya mah jauh dari kata profesional, ditilik dari
1. Tipe kamera
2. pengarahan gaya yang asal dan kurang memuaskan
3. pengambilan angle foto yang membuat muka saya semakin bulet dan aneh (`o`)
4. banyak kekurangannya lah pokoknya

yah tapi dari ratusan kekurangan, setidaknya beliau ikhlas dan ridho lah kami perbudak hahahaha ;evil;evil;
lebih dari setengah jam hunting gambar yang bagus (yang hasilnya lumayan sih) .. kami pun beranjak meninggalkan sunda kelapa senja hari (dan akhirnya saya yang jadi supir sepeda ontel ogleknya).......

(masih dengan mood yang sedengkul) Saya melanjutkan mencari sedikit kesenangan di Taman Fatahillah malam hari.. tapi keadaannya ckck, rupa bazar keliling.. (berharap pemda DKI, adakan acara wisata yang lebih berbudaya) ga ada yang bisa diliat..

sepanjang jalan... cuma ada tukang dagang, yang pindah dari pasar pagi ke taman faahillah... segala rupa dijual, dari: jaket, daster emak", lampu tidur, bingkai foto, sampe behel ceban-cebannan !!! wuiiih! dalam hati, bertanya-tanya "bagaimana cara pakainya?", "bahannya dari apa? kawat lapangan?" , "kalo lagi makan, ikut ketelen ga ya?" .. ga tau, karena trend behel atau apa.. sampe ada jualan behel emperan kaya gitu (sayang ga ada fotonya bos!)..

dari tukang makanan berat, sampe makanan (yang menurut saya) jarang ditemui di ciputat yaitu : kerak telor dan jagung rebus !.. emh emh.. jagung rebus bikin ngiler .. tapi perut masih setengah penuh akan nasgor yang baru di reload 1 jam yang lalu.. saya dan oci pun sepakat, untuk menunda membeli jagung bakar hingga malam tiba.

cari view bagus sana- sini, keliling-keliling .. tapi karena moodnya lagi ga bagus ya begini hasil fotonya :

cuma bisa gaya beginian -
salah satu gang Taman Fatahillah

bersama bang fotografer- di depan pasar malam Taman Fatahillah

bersama oci - depan pohon lampu-lampu (eh?) - Taman Fatahillah
17.00 : merasa sudah malam.. kami pun dengan semangat '45 nya mencari jagung rebus yang tadi dijumpai di sayap kanan Taman fatahillah. muter sana - sini.. tanya sana sini. tapi entah kemana si abang jagung rebus dissapear. *hopeless

20.00 : duaaaaaaaaaaaaar! (suara apa kah itu??)
ternyata suara thunder yang didahului oleh kilat-kilat cahaya dilangit malam kota jakarta.. saat tetesan hujan pertama jatuh di tanah Taman Fatahillah, saat itu pulalah keramaian bubar.. kalo istilah jadul sih MISBAR (gerimis bubar - red) .. dengan mood, yang tinggal semata kaki kami pun pulang, dengan tangan hampa .. (tanpa jagung rebus), kami bertiga tanpa banyak bicara sudah mengerti isyarat bahwa kami harus pulang (ikatan kovalen loh?)
"eh, gue mau beli minum dulu" sela oci
lalu kami bertiga pun, menghampiri warung minum yang ada kulkas merah (khas coca-cola company) terdekat . . dan tanpa disangka . ada secercah uap harapan : JAGUNG REBUS COY!

oh abang jagung rebus .. betapa membuncahnya kebahagiaan saya saat melihat uap" jagung rebus mu dari jauh.. *brb nodong abang jagung rebus* |g: abang, dicariin juga dari tadi| O: Nah! ini dia orangnya! | T (tukang jagung rebus-red) : ---- (hening) |
entah apa yang ada difikiran tukang jagung rebus dengan dua orang gadis cantik yang tiba" menodongnya hahahaha.. bodolah, yang penting jagung rebus bung!

Kami pun pulang dengan datar (tetep flat), menuju halte transjakarta, antri bus-naik- sempet adu argumen sama penjaga pintu bus gara-gara saya makan di dalam bus (makan jagung rebus) - transit harmoni - antri (lagi) - naik bus - duduk - *sempet ada orang aneh disebelah kiri saya, yang ga hentihentinya ngeliatin saya dan JAGUNG rebus ditangan saya, entah kesurupan (karena matanya melotot-melotot) entah emang nature orangnya begitu (mungkin down syndrom) - kabur lah saya langsung ke depan supir - duduk - diem - liatin jalanan - sampe lebak bulus - turun - naik angkot ciputat - dadah dadah sama faiz (dia turun di kampung utan) - dadah - dadah sama oci (turun di fatullah ) - dadah dadah ama abang angkot (saya kali ini yang turun) - naik angkot (lagi)- turun angkot- ------

akhirnya sampe rumah juga... dan saudara- saudara masalah selanjutnya adalah besok kuis BIOKIMIA, saya yang memang antipati sama dosen biokim memilih mencari alasan agar skip kuliah tersebut (memang karena saya belum baca materi SAMA SEKALI), oci yang merasa women in charge matkul biokim enggan untuk skip, sedangkan faiz, ya ga tau juga dia ngapain..

Tapi kenyataan terungkap, keesokan harinya kami bertiga skip kuliah..

Dan ternyata biokim ga ada kuis saudar-saudara!!

this is the lesson, for all of us (students) .. DONT EVER EVER EVER EVER think about skip your lecture caused by FEAR ..
but sometimes YOU CAN, if it caused by laziness hahahahaha

inilah cerita saya sebagai penulis amatir (sangat amatir) yang mengisahkan perjalanan yang ga terlalu penting.. demi terciptanya blog yang produktif!

_syifa fathya leonita_