Orang berkata bahwa ilmuwan adalah orang yang dapat mengubah dunia, memajukan teknologi, selalu membuat suatu terobosan yang dapat memulai peradaban baru. Hal itu terbukti dengan peradaban manusia yang semakin maju tahun ke tahun.
Dahulu orang berkirim kabar lewat surat yang seminggu kemudian baru dapat dibaca oleh orang yang dituju, sekarang oleh teknologi cangih yang diciptakan ilmuwan kawan di belahan dunia manapun dapat berkirim kabar dengan cepat dengan e-mail ataupun pesan singkat (short message sending).
Dahulu orang berjalan kaki atau bersepeda untuk pergi ke tempat kerja ataupun berjalan – jalan, kini oleh teknologi manusia tidak perlu repot berjalan kaki atau lelah mengayuh sepeda karena lebih dari 35% manusia (data tahun 1990 di eropa) menggunakan mobil untuk berpergian.
Dahulu orang menggunakan batu untuk menulis atau daun – daunan, sekarang industri kertas telah didirikan dengan kertas yang mudah didapatkan, digunakan dan dibuang.
Semua keuntungan ini ada di sisi manusia (Homo sapiens). Tapi sadarkah kita manusia, telah merugikan ribuan bahkan jutaan spesies di bumi ini karena kita?
Sinyal yang digunakan untuk telepon selular, ternyata mengganggu kehidupan lebah, berikut berita yang saya ambil dari Cuplik.Com :
![]() |
| sinyal ponsel mengganggu komunikasi lebah yang juga menggunakan sinyal |
Cuplik.Com - New Delhi - Ponsel yang berkembang di masyarakat ternyata bisa menyebabkan penurunan tajam dari populasi lebah madu. Sebab sinyal dalam ponsel menyebabkan radiasi pada koloni Lebah.
Para peneliti India yang berasal dari University of Punjab telah melakukan sejumlah uji coba dengan memasang salah satu dari dua sarang dengan dua ponsel yang dinyalakan selama 15 menit selama dua kali sehari. Sedangkan sarang yang lainnya ditaruh ponsel mainan atau dummy.
Setelah tiga bulan, mereka menemukan bahwa jumlah lebah dalam sarang yang dilengkapi dengan ponsel telah jatuh secara dramatis. Lebah Madu berperilaku aneh, ada lebih sedikit telur, dan tidak menghasilkan madu.
Perubahan perilaku lebah serupa telah diamati di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir. Koloni dari lebah-lebah tersebut hanya meninggalkan sarang, tidak pernah kembali. Fenomena ini dikenal sebagai koloni gangguan yang menyebabkan keruntuhan.
"Biasanya runtuhnya koloni sebelumnya disebabkan oleh virus, parasit, pestisida, menggunakan tanaman rekayasa genetik dan perubahan iklim," kata para peneliti, seperti dilansir Times of India,
"Laporan seperti runtuhnya koloni di alam di negara-negara berkembang seperti India, karena radiasi elektromagnetik (EMR) berbasis teknologi relatif baru bahkan cendrung tidak ada. Tapi, hal ini dimungkinkan bahwa EMR yang berlaku di negara-negara maju mempengaruhi populasi lebah di negara tersebut," tambahnya
Dari hasil penelitian tersebut, para ilmuwan di India menyimpulka, "Kami beruntung bahwa lonceng peringatan sudah berbunyi dan hal itu bagi kita dapat digunakan merencanakan strategi yang tepat untuk menyelamatkan bukan hanya lebah, tetapi hidup dari efek buruk tersebut,"[oz/mang].]
Limbah dari industri di dunia merusak lingkungan. berita dibawah ini diambil dari http://www.rainwaterharvesting.org/crisis/Industrial-pollution :
| ||||||||||
Lalu bumi memanggil kalian para ilmuwan, memanggil kalian wahai manusia yang dapat berfikir dan bertindak, untuk menyelamatkan dan mengobati lingkungan yang telah tersakiti (tercemari –red) oleh kalian sendiri.
Hari ini, saya mendapat penjelasan dari teman sekelas saya tentang “Apa yang dapat kita lakukan sebagai saintis untuk menangani pencemaran lingkungan?” dan saya mendapat jawaban seperti ini :
“Limbah yang merusak lingkungan pada jurnal tersebut berasal dari 3 tempat; limbah rumah tangga, bekas pertambakan, dan limbah industri, yang dapat kita lakukan adalah:
1.Untuk limbah rumah tangga : tidak membuang sampah sembarangan apalagi ke kali/sungai
2.Untuk bekas tambak : tidak menggunakan zat berbahaya saat menambak ikan
3. Untuk limbah industri : tidak membuang limbah secara langsung ke lingkungan (harus diolah terlebih dahulu)”
Menurut saya, pernyataan diatas adalah cara mencegah pencemaran, bukan mengobati lingkungan yang telah tercemar.
Apakah kita hanya bergantung pada industri yang mau mengolah limbahnya?
Apakah kita mahasiswa jurusan ilmu pengetahuan alam bergantung pada para penambak yang mau menggunakan zat ramah lingkungan untuk pakan ternak ikannya?
Apakah para saintis hanya bisa meneliti kadar pencemaran pada lingkungan, dan tidak dapat mengembalikan lingkungan menjadi sehat dengan ilmu yang mereka (atau kita-red) punya?








